Melihat sang Jenderal menangis histeris di depan jenazah yang ternyata adalah dirinya sendiri di masa depan, rasanya sakit sekali. Ia akhirnya sadar bahwa wanita yang ia sakiti adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Adegan di ruang mayat dalam Aku, Kamu dan Masa lalu ini menggambarkan penyesalan yang begitu mendalam hingga menembus waktu.
Karakter wanita berbaju putih benar-benar menyedihkan tapi kuat. Ia rela menderita demi orang yang justru menyakitinya. Adegan ia merangkak di tanah sambil memegang kalung itu sangat emosional. Dalam Aku, Kamu dan Masa lalu, pengorbanannya tidak sia-sia karena akhirnya membuka mata sang Jenderal tentang kebenaran yang selama ini tertutup.
Selain alur yang menarik, visual dalam drama ini sangat memanjakan mata. Kostum cheongsam merah dan seragam militer hijau tua terlihat sangat elegan dan berkelas. Latar rumah besar dengan taman yang luas menambah kesan dramatis. Aku, Kamu dan Masa lalu berhasil menghadirkan suasana era republik yang kental dengan estetika yang indah.
Perubahan emosi sang Jenderal dari arogan menjadi hancur lebur digambarkan dengan sangat apik oleh aktornya. Saat ia mencekik wanita itu lalu tiba-tiba teringat masa lalu, tatapan matanya benar-benar hidup. Dalam Aku, Kamu dan Masa lalu, aktingnya berhasil membuat penonton ikut merasakan kebingungan dan rasa sakit yang ia alami.
Adegan di ruang mayat yang gelap dan mencekam menjadi puncak ketegangan. Sang Jenderal yang terluka parah dipaksa menghadapi kenyataan pahit. Tulisan Kamar mayat di layar menambah nuansa horor psikologis. Aku, Kamu dan Masa lalu berani mengambil risiko dengan adegan ini untuk menunjukkan konsekuensi dari tindakan masa lalu.
Cerita ini mengajarkan bahwa cinta tidak selalu bisa diungkapkan pada waktu yang tepat. Sang Jenderal baru menyadari perasaannya ketika semuanya sudah terlambat. Wanita itu selalu ada di sana, menunggu, namun ia buta. Aku, Kamu dan Masa lalu adalah kisah tragis tentang cinta yang baru disadari ketika sudah kehilangan.
Kalung giok dengan tali merah menjadi simbol penghubung antara masa lalu dan masa kini. Saat kalung itu jatuh ke tanah, seolah hati sang wanita juga hancur. Detail kecil seperti ini dalam Aku, Kamu dan Masa lalu menunjukkan perhatian sutradara terhadap simbolisme yang memperkuat emosi cerita.
Wanita berbaju merah juga terlihat menderita, terjepit antara cinta dan kewajiban. Ia bukan sekadar antagonis, tapi korban keadaan. Dinamika antara tiga karakter utama dalam Aku, Kamu dan Masa lalu sangat kompleks dan membuat penonton sulit menentukan siapa yang benar atau salah.
Video berakhir dengan sang Jenderal yang masih bingung dan terluka, meninggalkan banyak pertanyaan. Apakah ia bisa mengubah takdir? Apakah wanita itu benar-benar meninggal? Aku, Kamu dan Masa lalu meninggalkan akhir yang menggantung yang membuat penonton penasaran dan ingin segera menonton kelanjutannya di aplikasi.
Adegan di mana sang Jenderal menyadari cincin di jari wanita itu benar-benar membuat bulu kuduk berdiri. Ekspresi wajahnya berubah dari kemarahan menjadi syok total. Ternyata wanita yang selama ini ia anggap musuh atau pengganggu, memiliki hubungan masa lalu yang sangat dalam dengannya. Kejutan alur di Aku, Kamu dan Masa lalu ini sangat memuaskan karena tidak terduga sama sekali.